I La Galigo, Mutiara yang “Hilang” - 31 May 2011 - Usaha Jasa Pariwisata
Welcome to UJP Official Website

Main | Registration | Login
Tuesday, 06/Dec/2016, 6:44 AM
Welcome Guest | RSS
Site menu
Our poll
Rate my site
Total of answers: 158
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Login form
Main » 2011 » May » 31 » I La Galigo, Mutiara yang “Hilang”
11:37 AM
I La Galigo, Mutiara yang “Hilang”


I La Galigo tergurat di atas lembar-lembar lontar dalam bentuk puisi dengan bahasa Bugis kuno. Mahakarya ini diperkirakan ditulis pada kisaran abad ke-13 hingga abad ke-15 Masehi. Puisi dalam bentuk sajak bersuku lima yang menceritakan asal-usul manusia ini juga berfungsi sebagai almanak sehari-hari.

Patut dicatat bahwa naskah I La Galigo adalah karya sastra paling tebal sedunia, mengalahkan epik legendaris dari India, Mahabharata. Jumlah larik syair Mahabharata adalah 160.000 larik, sedangkan I La Galigo memiliki jumlah larik syair lebih dari dua kali lipatnya, yakni lebih kurang sebanyak 360.000 larik. Inilah mahakarya peradaban Bugis yang luar biasa.

Cerita I La Galigo dikembangkan melalui tradisi lisan masyarakat Bugis dan masih sering dilantunkan dalam pelaksanaan beberapa upacara adat Bugis. Sebagian rangkaian kisah dalam naskah monumental ini masih tersimpan di Museum I La Galigo, Makassar, Sulawesi Selatan. I La Galigo dinilai sebagai salah satu bukti bahwa orang Bugis adalah suku bangsa yang besar dan berperadaban tinggi. Namun, karya besar ini seolah tidak mendapat perhatian lagi, termasuk sosok Bissu (pelantun I La Galigo) yang sebenarnya memiliki peran sentral dalam pelestarian I La Galigo. Bissu seringkali menuai anggapan miring dari masyarakat hanya karena berjender ganda. Padahal, mereka adalah penjaga setia tradisi I La Galigo.

Cukupkah kita hanya sekadar membanggakan I La Galigo? Tentu saja tidak! Aksi nyata untuk melestarikan aset budaya ini jauh lebih penting daripada hanya membanggakannya semata. I La Galigo sudah kenyang akan sanjungan. Yang diperlukannya hanyalah perhatian yang serius dan berkelanjutan dari pihak-pihak terkait. Bentuk dari perhatian itu mungkin dapat dimulai dengan mengangkat derajat sosok Bissu.

Cerita tentang kebesaran bangsa Bugis seakan-akan hanya menjadi awan gelap di negeri sendiri, termasuk di tempat asalnya, Sulawesi Selatan. Di negeri para pelaut itu, I La Galigo hanya mengisi imajinasi di ruang ingatan orang semata. Hanya sedikit kalangan tertentu yang masih merawat mahakarya ini dengan sungguh-sungguh. Ironisnya, di luar negeri, I La Galigo justru lebih dihargai. Pada tahun 2004, misalnya, kisah dalam epik I La Galigo dipentaskan di berbagai belahan dunia, termasuk di Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan di negara-negara di Asia.

Baru pada tahun 2011 ini, I La Galigo pulang kampung ke tanah Bugis. Pada 22-24 April 2011, bertempat di pelataran Benteng Fort Rotterdam, Makassar, epik I La Galigo dipentaskan. Akan tetapi, pergelaran I La Galigo di Makassar masih menyisakan kesan miris karena pementasan ini justru disutradarai oleh seniman Barat, Robert Wilson, dan diadaptasi oleh Rhoda Gruer.

Sebuah kesalahan fatal jika epik seagung I La Galigo malah menjadi tamu di negeri sendiri. Kesadaran kita baru muncul ketika I La Galigo menjadi perbincangan media massa di luar negeri. Adalah sesuatu yang sungguh aneh ketika karya besar bangsa sendiri justru lebih dihargai di mancanegara daripada di negeri sendiri. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi.

__________

Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com & www.WisataMelayu.com 

Sumber Foto: http://www.indonesiakreatif.net

Views: 2267 | Added by: YON | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
Name *:
Email *:
Code *:
Search
Calendar
«  May 2011  »
SuMoTuWeThFrSa
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031
Entries archive
Site friends
  • Create your own site

  • Copyright MyCorp © 2016 |